Pengaruh Budaya Bagi Perkembangan Jepang

Jepang yang dikenal sebagai negara matahari terbit merupakan suatu negara yang mengedepankan faktor budaya dalam meningkatkan industri parawisatanya. Hal ini menjadi salah satu sumber penghasilan utama dari negara Jepang. Selain memiliki berbagai tempat wisata serta bangunan peninggalan sejarah yang menarik, negara Jepang juga terkenal akan aneka budayanya. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang Jepang terbukti berhasil menarik perhatian orang dunia luar, seperti dalam hal sembahyang ke kuil sebagai kepercayaan positif dalam memulai hari di tahun yang baru. Selain itu, banyak tempat tur juga menyediakan aneka wisata untuk mempelajari budaya Jepang lebih mendalam.

Pemandangan gunung Fuji di Jepang

Jepang juga memiliki sejumlah peraturan yang cukup ketat dalam hal makan, seperti:

  • Saat makan menggunakan mangkuk sebagai wadah tempat makanan, posisi mulut harus memiliki jarak yang tidak terlalu dekat dengan mulut. Posisi yang terlalu dekat ini akan dianggap tabu oleh warga Jepang, karena menyerupai posisi anjing saat makan.
  • Dalam makan di sejumlah besar tempat makan di Jepang umumnya menggunakan alat makan berupa sumpit. Dan menjadi hal yang dianggap tidak baik saat menancapkan posisi sumpit secara tegak di nasi atau makanan yang tersedia. Hal ini dianggap tabu karena posisi bentuk tersebut akan menyerupai rupa makanan yang dipersembahkan sebagai jamuan kepada leluhur yang sudah meninggal.
  • Jika peraturan di tempat lain menyebutkan untuk tidak berisik saat makan, hal ini berlaku sebaliknya di Jepang. Saat menerima jamuan makanan berkuah, akan dianggap sangat menghargai orang yang menjamunya saat makanan itu dikonsumsi dengan cara diseruput hingga mengeluarkan suara. Sang penjamu akan merasa dipuji atas sajian makanan yang disediakan dianggap lezat.
  • Negara Jepang memiliki aturan dalam mengkonsumsi salah satu makanan khasnya, seperti sushi. Sushi ini harus dikonsumsi dengan cara mengoleskan bagian nasi yang berada di bawahnya ke kecap asin yang menjadi sausnya. Hal ini rupanya didasari akan, nasi tersebut sudah dipadatkan sehingga dapat bertahan saat dioles ke bumbu kecapnya. Sedangkan jika bagian atas yang berisi toppingnya yang dicelupkan, maka dapat membuat bagian topping tersebut berserahan di mangkuk sausnya.

Negara yang menjadi populer akan sakura ini juga memiliki transportasi publik yang sudah sangat canggih untuk digunakan orang banyak. Kereta shinkansen sangat populer karena kecepatan sangat cepat. Hal ini tentu sangat mendukung warga Jepang yang sangat disiplin dalam menggunakan waktu. Di Jepang juga memiliki petugas yang bekerja di stasiun dengan jabatan Oshiya. Dengan tugas yang lebih dibanding petugas stasiun pada umumnya, profesi ini bertugas dalam mendorong penumpang yang berada di dalam kereta api. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar saat kereta ramai diisi penumpang, jumlah penumpangnya dapat lebih dirapatkan ke dalam gerbong untuk memberi tempat bagi penumpang lainnya yang belum masuk. Transportasi kereta api di Jepang mampu menampung jumlah yang besar bagi transportasi masyarakatnya, yaitu berkisar 40 juta penumpang setiap harinya. Maka dari itu jumlah kapastitas yang sangat besar dari transportasi publik ini dapat membawa penumpang sehari-harinya terbukti nyata.

Pentingnya makna akan bunga sakura sebagai simbol dan perayaan hanami bagi segenap masyarakat Jepang. Saat tiba waktunya kelopak bunga sakura mekar seluruh tampilan pohon itu akan berubah warna menjadi pink, dari yang sebelumnya berwarna hijau. Periode mekarnya bunga sakura ini dianggap dapat membawa keberuntungan dan memberikan harapan baik bagi masyarakat Jepang. Maka dari itu pada periode-periode tertentu saat sedang waktunya, banyak orang akan menyempatkan diri untuk duduk di tengah kerumunan pohon sakura merayakan hanami sambil membawa hidangan untuk dikonsumsi bersama.

Dunia kerja di Jepang

Pola Hidup Masyarakat Jepang

Masyarakat Jepang terbiasa untuk sangat disiplin dalam menggunakan fasilitas publik seperti eskalator. Dengan standar yang terbukti jauh lebih disiplin dan teratur dibanding Indonesia, negara Jepang benar-benar memegang teguh etika dalam menggunakan fasilitas umum tersebut. Jika umumnya orang telah mengetahui bahwa posisi di eskalator dapat diisi hingga dua orang, dimana bagian sebelah kirinya dikhususkan untuk posisi orang berdiam dan menunggu tangga otomatis tersebut tiba di ujung bagian atas atau bawah di akhir. Sedangkan bagian sebelah kanannya lebih dikhususkan untuk posisi berjalan. Hal ini bertujuan untuk memberi jalan bagi orang dengan kondisi yang sedang terburu-buru agar tidak terjebak dan dapat terus berjalan.

Budaya disiplin warga Jepang dalam menggunakan fasilitas umum

Warga Jepang juga terbiasa untuk hidup sangat teratur saat mengunjungi rumah orang. Seluruh alas kaki yang dikenakan akan dilepas di bagian pintu masuk rumah, dan ditempatkan di rak sepatu. Hal ini bertujuan agar alas kaki yang dikenakan diluar tidak mengotori isi rumah. Selama berada di dalam rumah, disediakan alas kaki berbahan bulu yang disebut hebayaki (bahasa jepang asli), atau surippa (yang merupakan kata serapan dari bahasa Inggris ‘Slipper‘) untuk dikenakan di rumah. Alas kaku bulu ini memberi kenyamanan untuk dikenakan dengan aturan tertentu yang perlu dilepas saat tiba di beberapa bagian dalam rumah.

Kedisiplinan Orang Jepang

Orang Jepang umumnya terbiasa untuk mengelola keuangan mereka dengan sangat ketat. Kehidupan yang boros dalam mengeluarkan uang sangat jarang ditemui disana. Maka dari itu untuk kondisi yang umum, fasilitas kredit dan pinjaman juga terbukti kurang dicari disana. Bahkan masyarakat Jepang akan mengusahakan untuk mampir ke toko besar seperti supermarket menjelang waktunya tutup. Hal ini dikarenakan toko swalayan akan memberi diskon saat menjelang waktu tutup sebagai upaya menghabiskan barang dagangannya. Sehingga hal ini sering dimanfaatkan konsumen Jepang dalam memperoleh barang yang sekiranya tidak akan habis dibeli sampai malam hari.

Orang Jepang terkenal sangat menghargai waktu. Mereka selalu membiasakan diri untuk datang dalam pertemuan dalam waktu yang lebih cepat, agar tidak membuat menunggu orang yang ditemuinya. Hal menghargai waktu lain yang cukup kontras adalah dalam budaya berjalan kaki. Jika sebagian masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan berjalan santai, hal ini sangat bertolak belakang dengan budaya disana. Di sepanjang tempat publik yang menjadi pusat kehidupan kota, orang Jepang akan terlihat berlalu lalang di jalan tersebut secara cepat. Maka itu penting bagi segenap turis yang berkunjung agar jangan sampai menghalangi jalan yang mengakibatkan terhambatnya aktivitas orang lain disana.

Pegawai di sebuah cafe menyambut tamu

Masyarakat Jepang terkenal sebagai orang yang ramah. Hal ini berlaku kepada segenap lapisan masyarakat, baik itu terhadap turis asing maupun masyarakat asli. Orang Jepang sering berkomunikasi sambil menggerakan kepalanya sebagai respon mengangguk setuju yang terlihat lebih bersahabat serta tersenyum. Hampir tidak pernah terlihat ekspresi muram muncul dalam ekspresi wajah masyarakat Jepang. Karena mereka juga menganggap bahwa dunia tidak perlu mengetahui segala permasalahan yang sedang dialaminya. Sehingga mereka selalu menutupi hal-hal seputar pribadi dan bersikap profesional saat di ruang publik. Salah satu kebiasaan unik lain yang dilakukan orang Jepang yaitu menyerahkan suatu benda kepada orang lain dengan menggunakan dua tangan. Hal ini dianggap sebagai tindakan yang memposisikan orang lain terlihat lebih dihormati.

Efisien Dalam Penggunaan Waktu

Selain sangat disiplin dalam mengelola waktu, dan hubungan sosial dengan orang lain, masyarakat Jepang juga memiliki budaya mengantri yang sangat teratur. Nyaris tidak pernah ditemukan ada orang yang menyerobot suatu antrian di Jepang agar memperoleh lebih cepat barang yang ingin diperolehnya. Selain itu tindakan menyerobot juga dianggap orang Jepang sebagai tindakan tercela yang juga tabu untuk dilakukan.

Contoh Vending Machine di Jepang

Tersedia berbagai macam mesin penjual otomatis, atau yang biasa dikenal sebagai vending machine yang terletak di tepi jalan pada kota besar. Produk yang dijual pada mesin ini beragam jenisnya, mulai dari sandwich, kopi, telur, mie, minuman ringan, hingga sake. Bukan hanya itu saja, bahkan beberapa tempat juga ada yang menyediakan vending machine penjual komik, mainan hingga aneka macam produk lainnya yang tidak lazim dijual menggunakan mesin serupa di negara lain. Hanya dua jenis produk yang sangat sulit untuk ditemukan vending machinenya, yaitu snack dan permen.

Negara Jepang juga terkenal akan keakuratan ramalan cuaca yang disiarkan di televisi. Prediksi yang disajikan dapat mencapai ketepatan hingga 90%, tanpa dipengaruhi kondisi yang sedang terjadi di awal hari tersebut. Maka dari itu kebiasaan untuk menonton ramalan cuaca sebelum bepergian menjadi aktivitas rutin para warganya. Demikianlah aneka macam budaya Jepang yang populer hingga kini dan dorongan dari pengaruh budaya tersebut bagi perkembangan teknologinya. Dapat diambil kesimpulan banyak faktor yang mendorong Jepang sebagai negara maju di Asia, akibat dari etos kerja dan kedisiplinan masyarakatnya. Menganalisa dari sejumlah fakta diatas, ada banyak peluang usaha yang bisa dijalankan disana. Kamu tertarik untuk mencobanya?