Tag Archives: Menghormati keluarga

Uniknya Mengenang Kematian Bagi Perkembangan Diri

Kisah pergi meninggalkan dunia dari orang di sekitar pasti menimbulkan kesedihan. Terlebih lagi jika sosok tersebut merupakan orang terdekat yang dikasihi. Berbagai negara memiliki aneka bentuk aktivitas yang dilakukan dalam mengenang sosok terkasih yang telah meninggal. Berbagai tindakan ini dilakukan untuk memberi kenangan terakhir akan keberadaan pihak tersebut dalam hidup. Atau bisa juga untuk menghilangkan kenangan yang terus teringat sehingga mengikat di pikiran pihak yang ditinggalkan. Namun apakah hal ini dianggap sebagai hal yang buruk bagi pihak yang masih hidup? Dapatkah kisah pilu ini diubah menjadi perasaan yang kuat dalam membangun sisi positif sehingga menjadi manfaat bagi kehidupan pihak yang baru ditinggalkan? Uniknya ada sebagian negara yang memiliki cerita unik dalam merubah kisah duka ini menjadi suatu bentuk dalam melepas anggota keluarga ini.

Dampak Dunia Modern Akan Hal Supranatural

Festival Dia De Los Muertos (Day Of The Dead) di Mexico

Dalam menjadi manusia modern yang sudah hidup di jaman yang serba canggih ini, langkah apakah yang seharusnya kita kerjakan dalam meresponi kejadian ini? Beberapa kepercayaan tradisional percaya bahwa arwah dari keluarga yang telah pergi perlu untuk dituntun ke wilayah perbatasan lewat melakukan aktivitas tertentu. Hal ini kerap dijalani dan dipercaya berhasil mengantar keluarga yang telah meninggal untuk berpindah ke alam baka. Namun apa sebatas ini sajakah fungsi dari aktivitas ‘mengantar pergi’ sosok keluarga tersebut? Banyak negara yang melakukan suatu perjamuan dan berkumpul bersama saat merayakan acara melepas keluarga yang telah berpulang kembali tersebut. Hal ini menjadi moment yang baik untuk berkumpul bersama sekeluarga. Namun melihat dari fakta tersedianya makanan dalam jumlah yang besar, dan begitu banyak orang kelaparan yang sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari di daerah sekitar, tidak adakah langkah sederhana yang dapat dikerjakan untuk hal itu? Mungkin ada sebagian hal kecil yang bisa dikerjakan agar dapat menjadi bermanfaat bagi orang-orang sekitar yang masih hidup di dunia. Seperti saat mendapati orang yang kesulitan dalam mencukupi kebutuhannya saat melangsungkan kegiatan perpisahan ini, bukankah menjadi suatu hal yang lebih bijak jika membagikan makanan yang melimpah tersebut bagi mereka dibanding membuang sisa-sisanya jika tidak habis dalam kegiatan ini?

Tindakan yang Dikerjakan Bagi Orang Meninggal

Beberapa tempat memiliki kebiasaan dalam melepas peninggalan dari orang terkasih dengan cara berkumpul bersama. Masyarakat tersebut ijin dari segala kegiatan yang dikerjakan sehari-hari untuk mengunjungi kerabat dan keluarga besar, yang sebelumnya terpisah hingga waktu yang cukup lama akibat dari kesibukan masing-masing dan berpulang ke tempat asalnya. Kegiatan ini mengalami kemiripan dengan aktivitas mudik yang berlangsung di Indonesia, perkumpulan kembali seperti ini berguna dalam mengembalikan relasi hangat yang sempat terputus akibat terpisah dalam jarak dan waktu selama durasi yang cukup panjang. Juga menjadi kebiasaan penting yang dikerjakan selama mengunjungi tempat asal ini yaitu mengunjungi makam tempat disemayamkan para leluhur. Kondisi makam ini umumnya dibersihkan saat sempat dikunjungi kembali secara berkala agar selalu bersih terawat.

Kegiatan mengunjungi makam (Cuseok) di Korea

Banyak kebiasaan merawat makam anggota keluarga dianggap sebagai bentuk timbal balik dalam menghormati para leluhur tersebut. Para anggota keluarga yang masih hidup menganggap mereka perlu untuk terus menjaga kondisi yang baik bagi makam sebagai tempat tinggal para leluhur tersebut. Para leluhur yang sudah meninggal dipercaya akan tetap ada dan bekerja dalam memberkati kebutuhan fisik yang masih diperlukan anggota keluarganya di bumi. Seperti dalam memberikan hasil panen yang berkualitas. Selain dari bentuk makam tempat tinggalnya yang baru, serta menggantikan kondisi kain yang dikenakan sebagai pelapis jasad anggota keluarga yang dikubur. Tradisi unik ini disebut sebagai Famadihana, dan diterapkan di negara Madagaskar.

Sama seperti tindakan mengunjungi makam dan membersihkannya, tindakan beberapa orang yang dianut dalam kepercayaan negara-negara tertentu dalam menggantikan pakaian yang dikenakan di jasad leluhur juga dianggap sebagai upaya dalam menjaga keharmonisan keluarga yang kini berada di dua alam, dan sebagai bentuk upaya meminta kelancaran hidup serta dianugerahi berbagai berkat.

Film Coco, alam orang hidup dan orang mati

Berbagai budaya dan tradisi yang berlangsung di beberapa tempat banyak yang diangkat kisahnya menjadi cerita dalam film atau animasi populer. Dimana salah satunya yang terdapat dalam film animasi populer berjudul Coco. Film ini turut menampilkan beberapa adegan seperti membersihkan makam, mengganti pakaian yang dikenakan jasad di dalam peti, hingga festival menghias altar makam dengan berbagai hiasan serta foto-foto yang pernah diambil selama leluhur tersebut masih hidup. Dalam seketika suasana seram seakan sudah sama sekali tidak terlihat lagi di makam tersebut. Penting bagi altar tersebut untuk dihias sebagai persyaratan untuk dapat mengundang para arwah leluhur yang sudah terpisah ke alam baka. Suasana perayaan yang ramai dan penuh keceriaan dipercaya mampu mengundang leluhur tersebut untuk turut serta datang kembali ke bumi menikmati festival yang diberlangsungkan untuknya. Sehingga dalam acara reuni yang dipenuhi dengan kegembiraan ini, dipercaya masyarakat akan memperbesar kemungkinan terkabulnya ucapan dan keinginan yang diinginkan saat dimintakan ke leluhur yang sedang berkunjung kembali ke dunia. Kepercayaan akan permintaan yang dapat terkabut dalam acara ini dikenal sebagai hari Day of the Dead atau yang dalam bahasa Mexico disebut Dia De Los Muertos.

Kepercayaan Agama Mengenai Hal Ini

Beberapa kepercayaan dari agama Hindu juga diyakinkan dapat mengenang para leluhur yang sudah meninggal. Melalui kegiatan makan bersama di tepi sungai, serta mengapungkan makanan sesuai jumlah para leluhur yang dikenang di sungai tersebut. Tindakan ini dipercaya dapat mempertemukan pihak dari kedua alam tersebut untuk dapat berkumpul, berdoa dan makan bersama. Tradisi ini dikenal dengan nama Pitru Paksha. Diberlangsungkan di India selama 15 hari lamanya di bulan Ahwin (atau yang sering ditulis Ashvin), dan menjadi bulan ketujuh dari kalender Hindu lunisolar, yang bertepatan diantara bulan September dan Oktober dalam kalender Masehi. Kebiasaan Pitru Paksha ini di yakini dapat membantu para jiwa-jiwa leluhur yang sudah meninggal agar memperoleh kedamaian di alamnya sana.

Festival Obon, Jepang

Penggunaan Obon atau lentera juga dikenal sering digunakan di beberapa kawasan negara Asia dalam menyambut kedatangan para arwah leluhur untuk kembali berkumpul bersama dengan anggota keluarga yang masih mendiami bumi. Obon sendiri diambil dari bahasa buddha, ‘Urabone’ yang berarti kegiatan untuk membebaskan arwah keluarga dan leluhur dari penderitaan. Peristiwa ini dipercaya dapat terjadi satu kali dalam waktu setahun. Selain sebagai acara perkumpulan kembali antar dua alam, festival Obon ini juga dipercaya berlangsung sebagai bentuk penghormatan kepada pihak tersebut, upacara pembebasan arwah yang berada di dalam bumi dari penderitaannya. Di dalam festival obon yang berlangsung pada malam hari ini juga sering diadakan Bon Odori, yaitu sebuah tari-tarian mengelilingi sebuah tenda atau perapian yang diiringi langsung dengan alat musik tabuh gendang asal Jepang. Para penari yang turut serta melakukan Bon Odori ini menggunakan aneka macam kostum seperti Yukata, baju tradisional Jepang dengan model yang lebih sederhana.

Penutup

Berbagai tradisi dan kebiasaan tersebut membuktikan begitu besarnya pengorbanan dari aneka masyarakat dalam memegang erat relasi tali kekeluargaan antar anggotanya, bahkan disaat mereka sudah terpisah. Berbagai budaya tersebut masih dilestarikan dan dipegang erat, menciptakan suatu bentuk budaya yang masih begitu disimpan baik-baik.